Cerita Pendek

Cerita Pendek – Adalah seni untuk menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, menunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu.

Cerita Pendek

Pengertian Cerita Pendek

Sebagaimana dicatat Khotimatul Husna dalam buku Menulis Itu Mudah Panduan Praktis Menjadi Penulis Handal (2010:142), Sumardjo mengungkapkan bahwa cerita pendek adalah seni, keterampilan menyajikan cerita, yang di dalamnya merupakan satu kesatuan bentuk utuh, menunggal, dan tidak ada bagian-bagian yang tidak perlu, tetapi juga ada bagian yang terlalu banyak.

Berdasarkan pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengertian cerpen adalah cerita fiksi (rekaan) yang mengisahkan tokoh dan karakternya serta memiliki cakupan ide yang tunggal.

Ciri-Ciri Cerita Pendek

Sri Sutarni dalam buku Bahasa Indonesia 1 SMA Kelas X (2008:20) menyatakan, ada beberapa hal yang menjadi ciri-ciri sebuah cerpen.

Salah satunya adalah unsur instrinsik. Unsur instrinsik ini dibagi menjadi beberapa bagian:

Tema Cerpen

Tema merupakan pokok cerita atau ide pokok yang mendasari cerita. Tema cerpen umumnya berkaitan dengan kehidupan manusia sehari-hari.

Hal ini membuat sebuah cerpen menarik untuk dibaca. Sudut Pandang Cerpen Sudut pandang dalam cerpen berkaitan dengan cara penulis menyampaikan karyanya.

Biasanya dapat dilihat dari cara penulis menggunakan kata ganti orang pertama atau dia menjadi pengamat di luar cerpen dengan menggunakan kata ganti orang ketiga.

Tokoh dan Penokohan

Cerpen Tokoh dan penokohan merupakan dua hal yang menjadi penggerak dalam sebuah cerpen.

Tokoh merupakan pelaku, sementara penokohan adalah penilaian karakter terhadap pelaku tersebut.

Latar Cerpen

Latar cerpen tidak hanya berkaitan dengan tempat di mana peristiwa dalam cerpen terjadi. Akan tetapi juga berkaitan dengan waktu dan suasana.

Alur Cerpen

Rangkaian peristiwa dalam cerpen dinamakan alur. Alur ini juga dibedakan lagi menjadi tiga, yaitu alur maju, mundur, dan alur campuran.

Amanat Cerpen

Sebuah cerpen bukan hanya memiliki tujuan sekadar untuk menghibur. Cerpen juga membawa pesan moral. Pesan moral ini dinamakan sebagai amanat cerpen, sehingga membuat cerpen menjadi lebih bermanfaat bagi pembacanya.

Struktur Cerita Pendek

Saat akan membuat cerita pendek, termasuk pada karya yang bertema motivasi, penulis harus memahami strukturnya terlebih dahulu. Patokan dalam menulis cerpen ini harus dipahami agar penulis bisa menyusun kisah fiksi yang runtut, sehingga bisa diterima oleh pembaca dengan mudah.

1. Abstrak

Bagian pertama di dalam cerpen adalah abstrak yang sifatnya opsional, sehingga tidak semua bentuk karya sastra tersebut harus menyertakannya. Abstrak merupakan bagian dari cerpen yang memuat inti dari sebuah cerita atau ringkasan pendeknya.

Abstrak ini bisanya hanya terdiri dari beberapa kalimat saja untuk membuka cerpen atau sebagai pengantar saja. Bagian ini berguna untuk memudahkan pembaca untuk sedikit lebih memahami kisah yang dituliskan dalam cerpen, sebab sudah disampaikan ringkasan singkatnya.

Pada cerpen bertema motivasi, bagian abstrak ini berfungsi untuk menarik perhatian pembaca agar bisa memusatkan fokusnya ke dalam kisah yang disajikan. Abstrak akan membawa pembaca untuk berpikir luas, sehingga bisa menangkap kisah yang diangkat di dalam cerpen tersebut.

Teks cerpen boleh saja tidak mencantumkan bagian abstrak apabila diperkirakan tidak perlu untuk memberi ringkasan cerita. Bagian yang satu ini sifatnya tidak paten harus ada dalam penulisan cerpen, melainkan digunakan secara opsional sesuai dengan kehendak penulis.

2. Orientasi

Orientasi merupakan tahap pengenalan yang berkaitan dengan munculnya tokoh dan latar cerita. Bagian pengenalan tokoh berkaitan dengan peristiwa apa yang sedang dialami oleh tokoh utama. Pada tahapan pengenalan tokoh ini akan ditunjukkan bagaimana karakter dari pemeran utama tersebut.

Bagian lain dari orientasi adalah pengenalan latar waktu dan suasana atas peristiwa yang ada dalam cerpen. Fungsi dari latar dalam cerita pendek adalah untuk membuat suasana semakin hidup, sehingga pembaca bisa terhanyut di dalamnya.

Selanjutnya fungsi dari bagian orientasi adalah untuk menunjukkan watak tokoh, baik secara psikis maupun fisik. Orientasi merupakan bagian yang wajib ada di dalam cerpen, sebab merupakan struktur awal untuk membangun suasana.

Orientasi pada cerpen motivasi memuat hal yang sedang dialami oleh tokoh utamanya di awal cerita. Di samping itu, akan ditunjukkan pula bagaimana karakteristik dari tokoh tersebut. Bagian ini juga akan menunjukkan awal mula hal-hal yang memicu permasalahan bisa terjadi pada tokoh.

3. Komplikasi

Tahapan munculnya permasalahan dalam sebuah cerita pendek akan ditunjukkan pada bagian komplikasi. Bagian ini akan menunjukkan bagaimana sang tokoh utama di dalam cerpen akan menyikapi konflik yang dihadapi dalam kisah tersebut.

Komplikasi ini bermula dari mulai munculnya bibit permasalahan yang dialami oleh tokoh utama. Selanjutnya, akan terjadi peningkatan konflik akibat adanya permasalahan tersebut hingga mencapai titik puncak atau biasa dikenal dengan istilah klimaks.

Munculnya konflik pada cerpen motivasi bisa muncul dari pemikiran sang tokoh utama sendiri yang diperbesar dengan terlibatnya karakter lain. Konflik ini akan memunculkan gejolak di dalam batin sang tokoh utama yang digambarkan melalui latar suasana, sehingga bisa membuat pembaca merasa terbawa.

Ada pula konflik lainnya yang melibatkan secara langsung para tokoh di dalam cerpen. Pada konflik jenis ini biasanya akan dimunculkan tokoh penengah ketika permasalahan sudah mencapai titik klimaks. Peran dari tokoh penengah tersebut adalah untuk membantu meredam terjadinya konflik.

4. Evaluasi

Evaluasi merupakan struktur cerpen yang berfungsi untuk mengarahkan konflik kepada penyelesaian. Saat konflik sudah mencapai klimaks, penulis akan mulai mengarahkan alurnya menjadi peredaman suasana. Hal tersebut dilakukan dengan cara mulai menunjukkan jalan keluar atas konflik tersebut.

Pembaca bisa mulai menemukan tanda-tanda bahwa konflik akan segera menemui titik penyelesaian pada tahap evaluasi. Cara yang bisa dilakukan untuk mengupayakan solusi ini bisa dengan menghadirkan tokoh lain atau permainan karakter dari pemeran yang sebelumnya sudah ada.

Kehadiran tokoh lain sebagai penengah ini bisa dipilih oleh penulis apabila pemeran di dalam cerpen tersebut tidak terlalu banyak. Tokoh tritagonis ini akan berperan penting sebagai penengah apabila konflik yang diangkat merupakan perseteruan antara dua pihak.

Evaluasi konflik dengan memainkan karakter para pemeran di dalam cerpen bisa dilakukan dengan membawa alurnya untuk mendalami pemikiran dari tokoh utamanya. Pada tahap ini, penulis bisa memfokuskan tahapan evaluasi pada pemikiran tokoh utama yang mencari jalan keluar atas konflik tersebut.

Cerpen motivasi bisa menggunakan kedua cara evaluasi tersebut bergantung pada latar suasana yang dibangun oleh penulis. Tahapan evaluasi ini bisa dibuat hanya sebatas gambaran singkat berisi klue bahwa konflik akan segera menemukan titik penyelesaian.

5. Resolusi

Pada bagian resolusi ini konflik yang ada di dalam cerpen akan benar-benar menentukan titik penyelesaian. Konflik dalam cerpen akan terpecahkan secara keseluruhan, sehingga bisa menemukan titik penyelesaiannya.

Resolusi ini berisi pengungkapan fakta terkait permasalahan yang terjadi hingga pada solusi untuk menyelesaikannya. Semua permasalahan yang sudah dialami oleh tokoh di dalam cerpen tersebut akan segera berakhir karena solusinya sudah ditemukan.

Bagian ini merupakan tahapan yang cukup dramatis dalam cerpen setelah terjadinya konflik. Hal ini disebabkan karena para pembaca akan dimainkan sisi emosionalnya untuk menanggapi solusi atas konflik tersebut.

Pembaca akan terpengaruh dengan suasana yang dibuat ketika konflik tersebut dalam tahap pemecahan. Dalam pembuatannya sendiri, penulis harus mampu memberikan suasana tersebut, sehingga cerita yang disajikannya bisa mempengaruhi pembaca.

6. Koda

Akhir sebuah cerpen akan ditandai dengan bagian koda yang merupakan struktur terakhir dari karya sastra ini. Penulis cerpen bisa menyampaikan pesan moral dari kisah yang diangkat melalui tahap koda atau dalam istilah lain dikenal sebagai reorientasi.

Koda memberikan pembaca suguhan nilai-nilai pembelajaran yang bisa dipetik dari cerita pendek tersebut. Bagian koda ini bersifat opsional, sehingga tidak selalu harus dicantumkan di dalam cerita pendek. Koda dalam cerpen bisa dibuat sesuai dengan struktur ending yang diinginkan oleh penulis.

Apabila penulis menghendaki ending yang menggantung, maka koda ini tidak perlu dicantumkan. Namun, apabila penulis ingin pembaca merasa sudah menyelesaikan seluruh bagian cerpen tanpa rasa penasaran lagi, maka bagian koda ini diperlukan.

Contoh Cerita Pendek

Tak Ada Jawaban

Aku mungkin belum mengerti arti dari sebuah kesetian. Kesetiaan yang membuat raga ini menunggu terlalu lama. Menunggu seseorang yang sudah lama meninggalkan semuanya tanpa kepastian. Mereka pernah bilang, bahwa kau tidak akan pernah kembali lagi. Tetapi aku yakin, kau tidak akan pernah pergi membawa luka yang penuh dengan tanda tanya ini.

Aku selalu menunggumu dibawah langit yang mengerti akan kegelisahan ini. Hingga akhirnya, air hujan serta air mata pun turun dengan bersamaan membawa pertanyaan yang selalu ingin aku sampaikan kepadamu. Pertanyaan yang tak pernah sampai kepada seseorang yang dituju untuk menjawabnya.

Sebuah pengorbanan pasti akan mendapatkan balasan yang setimpal, bukan?

Hingga suatu hari, kau mengirimiku pesan.

Aku senang dan aku gelisah. Kau kembali dan pastinya kau akan menjawab semua pertanyaan dari ku.

From: Elza

Hai. Apa kabar?

Aku gemetar. kakiku pun tak dapat menopang beban tubuhku. Aku terjatuh di lantai rumahku. Aku melihat keatas, banyak orang jatuh cinta pada saat cuaca hangat dan langit sedang membiru, tapi aku, tidak. Aku jatuh cinta padamu saat udara terasa dingin dan langit sedang menangis. Bukan berarti itu buruk, itu karena kau adalah hal terbaik yang bisa ku rasakan saat aku tidak bisa melihat apapun, bahkan diriku sendiri.

Cinta terbaik datang pada saat hari yang sangat melelahkan. Dan mungkin, cinta pergi disaat hari itu juga.

Satu hari, satu minggu bahkan sampai satu bulan. Kau belum membalasnya lagi. Bahkan, aku belum sempat menanyakan semua pertanyaanku padamu. Muncul pertanyaan lain dari otakku. Kau niat tidak sih menghubungiku? Apa kau cuma bermain-main dengan ku? Entahlah, pertanyaan yang tak akan berujung. Hingga akhirnya, aku sudah lelah untuk bermain-main dengan kesetiaan.

Aku pergi.

Tak menengok kebelakang lagi.

Aku menjalani hidupku seperti semula. Sedikit demi sedikit membuka hatiku untuk orang lain.

Karena aku baru ingat, kau pernah bilang, “Lupain aku kalau aku menyakitimu.”

Di tempatku bekerja, aku bertemu dengan seseorang yang berhasil mengetuk pintu hatiku. Aku tau, itu belum seratus persen berhasil masuk. Masih terdapat serpihan kecil yang mungkin tak akan pernah hilang dari tempatnya. Apakah kau akan kembali? Atau kau akan terus menerus menyiksaku seperti ini?

“Bel, kenapa? Jangan melamun terus.”

Seseorang mengusap puncak kepalaku dengan lembut. Mengembalikanku ke dalam dunia nyata, ke dunia yang benar-benar mengatakan, aku harus melupakan kau.

Tetapi setelah aku sadar, bahwa aku harus melupakanmu. Kau malah datang, didepan mataku. Sorotan matamu begitu dingin, namun aku bisa merasakan dibalik tatapan itu penuh luka. Apa yang terjadi terhadap Elza beberapa tahun silam? Apa dia punya alasan untuk tak memberiku kabar selama ini?

“Bel, kamu liatin apa?”

“Enggak. Ayo kita pulang.” Aku menarik tangan Leon keluar.

Leon adalah seseorang yang telah membuka hatiku dan menyadarkanku betapa banyak orang yang menyayangiku.

Tatapan tajam milik Elza mengarah kepadaku dan ia bergumam, “Bella,”

Entah kau kaget atau hanya berpura-pura, aku tak tau dan tak mau tau.
Diluar sedang hujan, tepaksa aku menunggu Leon mengambil mobilnya di teras Café.

“Apa kabar?” Aku tersontak kaget. Aku melirik ke sisi kananku dan benar dugaanku, kamu.

“Baik.” Jawabku singkat.

“Kamu baik-baik saja?” tanyaku untuk sekedar memastikan.

Elza menghela nafasnya dan mengangguk, “Ya, aku baik-baik saja.”

Hujan memang menjadi saksi bisu kisah antara aku dan kamu. Pertemuan, perpisahan dan pertemuan hingga tak berujung. Entah aku harus menyukai hujan atau malah membencinya.

“Pacar kamu?” Aku hanya mengangguk.

“Calon suami.”

Canggung, aku atau Elza tidak mempunyai topik pembicaraan atau memang kami tidak ada yang mau memulai percakapan. Hingga akhirnya Leon datang dan aku berpamitan dengan Elza.
“Aku duluan,”

“Iya, hati-hati.”

Elza melemparkan senyumannya, yang aku yakin itu bukan senyum tulusnya. Kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku, kan, Za?

Aku terus memikirkannya, aku tau ini salah, tetapi aku harus mengatakannya sebelum terlambat. Aku meraih ponsel di nakas meja, mencari nama seseorang dan menelponnya.

“Halo..”

“….”

“Yang tadi di café itu Elza.”

“….”

“Iya, aku mau menyelesaikannya.”

“….”

“Aku janji, aku akan menjaganya.”

Aku mematikan panggilannya dan membuka pesan untuk mengirimi pesan ke seseorang.

To: Elza

Temui aku di café yang terakhir kali kita bertemu.
Sore ini.

Send.

“Aku berharap kamu membaca pesan dari ku.” Aku bergegas pergi.

Dua jam belum ada tanda-tanda akan kehadirannya. Aku tetap bertahan menunggu, karena aku yakin, dia akan datang.

Ponselku terus berdering, menampilkan nama Leon disana. Aku tak mengangkatnya, karena aku takut ia akan khawatir dan marah.

Jam sudah menunjukan tengah malam dan café ini akan tutup. Tetapi, tetap, Elza belum datang atau dia tidak datang? Tak ada air mata yang keluar dari pelupuk mataku, tak ada sama sekali.
Ponselku berdering, itu bukan Leon yang menelpon melainkan Elza. Aku buru-buru mengangkatnya,

Halo..”

“….”

Bulir bening meluncur lancar di pipi kananku. Aku berlari keluar tanpa memperdulikan panggilan yang masih tersambung.

Benar, aku belum benar-benar melupakanmu atau bahkan aku masih mempunyai rasa denganmu. Aku masih mencintaimu detik ini juga.

Aku menembus hujan, aku tak memikirkan daya tahan tubuhku, aku tak peduli kalau aku sakit. Yang aku pikirkan sekarang, adalah memastikan bahwa kau sekarang baik-baik saja.
Sesampainya, aku berlari disepanjang lorong dan tak memperdulikan suster yang meneriakiku.
“Pak, gimana keadaannya?”

“Kamu Bella?” Aku hanya mengangguk.

“Saya menghubungimu karena hanya ada nomer kamu diponselnya dan kejadiannya dijalan dekat café yang mungkin tempat kalian akan bertemu.”

Elza cuma menyimpan nomorku saja? Kenapa? Kenapa hanya aku?

Dokter baru saja keluar dari icu, “Gimana keadaannya, dok?”

“Dia kritis, harapan hidupnya sangat tipis.”

Aku menggelengkan kepalaku. Aku baru bertemu dengannya lagi dan janganlah Engkau memanggilnya sekarang.
Aku berjalan mendekati tubuh kaku Elza, banyak perban yang melekat ditubuhnya. Air mataku terus mengalir tak ada hentinya. Aku berharap, diberi  kesempatan untuk bersamanya, walau sedetik saja.

“Kamu jahat!” Aku memukul pelan lengan kiri miliknya.

Jari jemarinya bergerak. Aku bergerak untuk memanggil dokter, tetapi lenganku dicegah olehnya. Dia menggelengkan kepalanya, bertanda aku tak perlu memanggil dokter.

“Maafkan aku.”

Aku hanya menangis dalam diam, “Aku sayang kamu, tapi saat itu keadaannya yang membuatku harus pergi darimu,” Elza mengatur nafasnya yang tak teratur,

“Aku mencintaimu sampai detik ini juga.” Tak ada suara dari Elza lagi, yang ada hanya suara panjang pendeteksi jantung.

Setelah perginya Elza, aku tetap belum mengerti tentang pertanyaanku. Pertanyaanku masih ngambang, entah itu akan dijawab atau akan tetap menjadi rahasia abadi.

Dan pertanyaanku adalah: Dimana jepit rambut yang kau simpan?

Senja Diujung Hariku

Mentari berada di ufuk barat. Warna kejinggaan menjadi identitasnya, ia memberikan ketenangan bagi setiap insan. Begitupun dengan Ayahku, Ia menjadi salah satu penikmat senja dari ribuan orang yang juga menikmati ketenangannya. Inilah alasan mengapa Ayah memberiku nama Senja, karena beliau berharap aku menjadi sumber ketenangan dalam keluargaku dan orang disekitarku. Tapi nyatanya, aku tak bisa berbuat apapun ketika semuanya perlahan hancur.

Aku disini, dibawah langit senja, menikmati ketenangannya yang murni. Yang tak bisa ku dapatkan dirumahku sendiri. Ya, Ayah dan Ibuku sudah dua tahun bercerai, sekarang aku tinggal bersama Ayahku yang hanya bisa menghabiskan sebagian besar waktunya di kantor. Aku seperti anak pada umumnya, yang merindukan kasih sayang seorang ibu. Aku rindu padanya.

“Selamat sore. Boleh aku duduk disini?”

Aku hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh. “Terimakasih.”

“Aku sering melihatmu disini, menjelang malam,”

“Kamu penyuka senja?”

Aku mulai risih terhadapnya. “Aku Jingga.” Lanjutnya.

“Senja.”

“Iya aku tau, ini senja.”

Alarmku sudah berbunyi, itu tandanya, aku harus pulang. “Maaf, aku harus pulang.”

****

Kehidupanku sangat monoton. Bangun tidur, makan, sekolah, belajar dan tidur lagi, itu ku lakukan setiap hari, kecuali hari minggu. Entah kenapa, aku tak terlalu suka dengan kehidupan luar. Seperti, hangout bersama teman, pacar atau yang lainnya. Karena aku fikir, mereka itu freak, tak ada yang benar-benar tulus.

“Kamu tau kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tetapi langit selalu menerima senja apa adanya.”

Aku menoleh ke sumber suara. “Kamu..”

“Iya, ini aku Jingga. Yang selalu menemani senja.”

Aku hanya memutar bola mataku malas. Bisa-bisanya ada orang seperti ini, mengganggu ketenangan orang lain.

“Aku belum tau namamu,”

“Kemarin, udah.”

Tak ada suara, entah dia pergi atau sedang memikirkan sesuatu. Aku tak peduli. Aku tetap menatap senja yang tertutup oleh awan hitam.

Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia hitam gelap berduka, tetapi langit selalu menerima senja apa adanya.

Memang benar katanya, senja itu indah, senja itu menyenangkan dan senja mampu membuat banyak orang menyukainya. Aku ingin menjadi senja yang seperti itu.

“Oh nama kamu Senja?”

Ah, ternyata orang itu masih ada disini.

“Cocok.”

Aku memalingkan mukaku ke arah nya dan menatap iris mata miliknya,

“Jingga dan Senja, saling melengkapi.” Lanjutnya dan tersenyum ke arah ku.

Sekarang aku tak sendiri lagi untuk menikmati senja. Hidupku tak monoton lagi, karena ada Jingga bersama cerita konyolnya yang menemani waktu senjaku yang singkat. Aku bahkan menjadi tak sabar untuk menunggu senja, waktu senja lah aku bisa bertemu dan bertukar cerita bersama Jingga. Seperti misalnya senja hari ini.

“Tadi pagi aku habis ngerjain guru BK.” Ucapnya dengan menggebu-gebu.

“Iya kah? Kenapa?”

“Guru BK ngejar-ngejar aku,”

Aku hanya mengernyitkan dahi tak mengerti. “Jadi gini, aku kan terlambat…” Jingga menceritakan kejadian tadi pagi dengan semangat, sesekali aku menanggapinya dan tak jarang aku tertawa.

Terkadang, sesuatu hal yang kecil bisa membuat suasana menjadi menyenangan dan tak membosankan. Bahkan, orang yang baru kita kenal pun bisa menjadi tujuan hidup kita.

“Aku mau menceritakan sesuatu, dengerin ya.”

Jingga membalikkan tubuhku, agar kami berhadapan. “Aku Jingga Adi Nugroho, anak pertama dari dua bersaudara. Aku tau tempat ini karena Bunda sering ngajak kesini, waktu kecil sih. Aku udah lama liat kamu disini,”

“Kenapa baru sekarang kamu nyamperin aku?”

“Nyari waktu yang tepat, hehe”

“Kamu tau? Senjaku itu kamu, seseorang yang mengubah hidupku.” Lanjut Jingga.

Aku menyadari darah segar mengalir dari lubang hidungku, “Sebentar.” Aku membalikkan tubuhku ke arah yang lain untuk mengusapnya.

“Aku pulang dulu ya, Ga.” Ucapku tanpa menoleh ke arah Jingga. Jingga yang masih bingung dengan Senja yang tiba-tiba pergi, tak mencoba untuk memanggilnya atau pun mengejarnya. Apa Jingga mengucapkan sesuatu yang salah?

****

Hari-hariku sangat membosankan. Bagaimana tidak? Aku tidak diperbolehkan keluar bahkan hanya untuk melihat senja. Sedangkan, di waktu yang sama dan tempat yang berbeda. Seseorang sedang menikmati dan menunggu senja. Senja, yang akhir-akhir ini menjadi orang yang penting dalam hidupnya. Bahkan untuk beberapa hari ini saja ia tak bertemu dengan Senja, hidupnya terasa ada yang kosong. Jingga merindukan Senja.

“Kamu kemana?”

Senja juga merindukan Jingga.

Aku senang seperti ini, karna Ayah akan banyak meluangkan waktunya bersamaku. aku memohon kepada ayah, untuk mengizinkanku keluar bertemu dengan Jingga. Sebelumnya, aku sudah menceritakan Jingga kepada Ayah. Tanggapan Ayah, baik.

“Senja janji hanya sebentar.”

“Tapi kondisi kamu..”

Aku memotong perkataannya, “Ayah percaya kan, kalau Senja itu kuat?” Ayah hanya mengangguk.

“Senja cuma mau mengatakan selamat tinggal saja, Yah. Bukannya ayah pernah bilang, tidak sopan kalau pergi tanpa pamit,”

Ayah hanya menghela napasnya berat. Mana bisa ia menolak permintaan putrinya.

Ayah mengantarkanku ke tempat dimana biasanya aku bertemu dengan Jingga dan menikmati senja. Betul saja dugaanku, Jingga sudah ada disana, bersama dengan ketenangan yang senja berikan.

“Hai, apa kabar?”

Jingga membalikkan tubuhnya dan tak percaya bahwa seseorang yang sebulan ini ia tunggu, tepat ada didepannya.

“Kamu kemana saja? Sebulan lebih kamu nggak pernah kesini? Aku setiap hari disini, nunggu kamu.”

Aku duduk disampingnya, “Kamu kangen aku, ya?”

Jingga memutar kedua bola matanya, “Jangan ge-er, aku disini karena senja cantik.”

“Aku emang cantik.”

“Senja.. sejak kapan kamu jadi narsis gini?”

“Sejak kenal kamu.”

“Aku boleh pinjem bahu kamu? Aku lelah banget akhir-akhir ini.” Lanjutku.

Jingga menepuk-nepukkan bahunya, “Bahuku siap untuk menahan beban hidupmu, tuan puteri.” Aku memukul pelan bahunya dan bersandar di bahunya.
Nyaman. Satu kata yang menggambarkan hatiku saat ini.

“Aku mau dengerin cerita kamu itu,”
Jingga menarik nafas panjangnya dan memulai menceritakan cerita-cerita yang selama ini tertahan. Aku hanya menjadi pendengar baik.

“Senja kamu tau? Aku menyukaimu sejak aku kembali lagi kesini dan melihatmu. Kamu terlihat seperti Bunda dan mungkin Bunda juga setuju dengan argumentasiku ini. Bunda udah tenang disana.” Ucapnya.

Aku meneteskan air mataku, “Maafkan aku, Jingga.” Jingga hanya membalas dengan senyum manisnya pertanda dirinya baik-baik saja.

“Sekarang waktunya kamu yang cerita dong, jangan jadi pendengar terus.” Ucap Jingga.

“Senja, udah sore, Nak, ayo pulang.” Panggil ayah.

“Aku pulang dulu, ayah menungguku. Nanti aku akan menceritakannya, kalau kita bertemu lagi.” Aku melangkah menjauh dan menghampiri ayah yang setia menungguku.

Beberapa minggu yang telah dilewati. Hembusan angin sore menerpa pepohonan dan menggugurkan daun-daun yang telah mati. Banyak orang yang datang dan pergi, hanya untuk melihat ciptaan Tuhan yang begitu indah.

Di tempat ini, banyak menorehkan cerita untuk banyak orang. Entah itu menyenangkan bahkan menyedihkan.
Di sudut taman, seorang pria paruh baya menikmati suasana yang selama ini tidak ia dapatkan, karena kesibukan dunianya. Ia sampai lupa dengan kewajibannya sebagai seorang ayah dan suami. Ia telah gagal untuk itu.

“Permisi, Om.”

“Iya, kenapa?”

“Om ini ayahnya Senja kan?”

Hanya mendengar namanya disebut saja sudah membuat pertahanannya runtuh, “Iya.”

“Saya Jingga, Om. Temannya Senja.”

Mereka duduk dibangku yang biasanya Senja menghabiskan waktunya, untuk menikmati senja. Ayahnya Senja menceritakan bagaimana keadaanya sekarang dan dimana senja sekarang. Senja telah berada disisi-Nya, bersama dengan Bunda.

Seseorang akan dianggap penting hidupnya ketika ia telah pergi. Bahkan, mereka akan menyesali perbuatannya yang telah menyia-nyiakan orang itu.
Senja.

Seperti namanya, seseorang yang mampu membuat ketenangan ketika sedang bersamanya. Contohnya misalnya, Jingga. Yang belum lama ini mengenal Senja.

“Senjaku masih tentang kamu. Yang selalu ku sebut dalam doa. Meski ia datang dengan sengaja dan pergi hilang begitu saja, tapi aku selalu menjaganya didalam hatiku.” –Jingga-

Nah itulah pengertian, ciri-ciri, struktur, beserta contoh dari cerita pendek. Semoga Membantu!

Check Also

Kata Sandang

Kata Sandang – Salah satu jenis keragaman kata yang ada di bahasa Indonesia yang sering …